Anak yang Berteman Dengan Maut
Terkadang, ketika saya sedang sendiri dan kehabisan sesuatu untuk dipikirkan, saya bertanya-tanya.
Ketika maut datang menjemput saya nanti, apakah kematian saya akan menimbulkan bunyi dentuman yang keras disertai jeritan-jeritan tragis dan tubrukan benda-benda pecah belah? Atau lamat-lamat, hening, dan teduh, seraya ia melingkarkan tangannya di leher saya dan mencekik saya?
Bagaimana dengan setelahnya? Apakah kepergian saya dapat memberi tanda titik untuk menyudahi segala suara bising yang kerap bikin kepala pening?
Bagaimana jika tidak?
Sepertinya jawabannya: tergantung.
Dari apa yang saya dengar (sudut pandang religius, sih), jika kita mengejar maut, ia akan balas mengejar kita, beberapa kali lipat lebih agresif. Begitu pula sebaliknya. Kesimpulannya, apabila kita menjemputnya sebelum ia sungguhan ingin menyapa kita, yang akan terjadi setelahnya akan sama saja; gaduh dan membakar.
Ada apa menulis ini? Apakah saya ingin mati? Tunggu, mundur sedikit lagi. Sedari awal, apakah saya ingin hidup?
Jawaban yang sama untuk kedua pertanyaan, tidak.
Saya tidak ingin mati, bukan karena saya menganggap lemah mereka yang berkeinginan demikian. Saya hanya merasa masih ada hal-hal yang saya pribadi tertarik untuk hadapi. Selain itu, dari perspektif religius yang terpatri di batin saya (mungkin dampak dibesarkan sebagai cucu pemuka agama), hidup ini merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa.
Meski begitu, jika Anda memaksa saya untuk jujur, saya tidak sebegitunya ingin hidup juga. Kita tidak bisa melihat segala hal dari sudut pandang religius. Secara saintifik, hidup saya merupakan konsekuensi biologis. Saya tidak pernah minta dilahirkan, saya juga tidak pernah merasa beruntung dilahirkan.
Komentar
Posting Komentar