Start!

 

Let's Go!

    TIGA KALI guru saya mengusulkan agar saya menulis di blog, sebelum akhirnya saya mempertimbangkan hal tersebut dan benar-benar melakukannya. Saya ingat betul, setiap kali datang ke sekolah untuk urusan organisasi dan kami tak sengaja berpapasan, beliau mengajak saya berbicara seraya menanyakan hal tersebut. 

    "Kenenza, sudah mencoba menulis di blog?"

    Saya menjawab ya. Sejujurnya, itu dulu sekali, waktu saya mengikuti blog competition yang diadakan oleh sebuah perusahaan susu. Kompetisi tersebut bukan untuk anak SD, sebenarnya; temanya adalah menceritakan bagaimana produk susu tersebut mendukung aktivitas sang buah hati, dan tentunya, target pesertanya adalah ibu-ibu. Saya pun menuliskan sebuah cerita tentang ibu dan anak yang tidak pernah ada di belahan dunia manapun, alias mengarang indah. Ketika mendapat email bahwa saya menang dan 'anak'-nya akan diwawancara, saya hampir pingsan. 

    Tentu saja, saya tidak menceritakan ulah tersebut kepada guru saya. Saya hanya menceritakan kepada beliau bahwa belakangan ini saya sudah jarang sekali menulis, hanya sesekali menuliskan pendapat di media sosial. Beliau bertanya apakah 'pendapat' tersebut berupa kritik. Saya mengiyakan, karena memang, saya suka menganalisis isu-isu sosial dan mengemukakan pendapat saya. Dengan senyuman hangat, beliau berkata, "Jangan takut untuk mengkritik sesuatu, jangan takut akan menyakiti hati orang lain." Kalimat ini sedikit ambigu. Jadi, maksudnya apa? Kau tidak perlu takut jika orang lain sakit hati, atau kau tidak perlu takut akan ada yang sakit hati? Tapi, karena beliau seorang guru, tentu saja yang kedua. Maksudnya, saya tidak perlu khawatir kata-kata saya akan menyakiti hati orang lain, karena saya sudah besar dan pasti tahu bagaimana cara mengkritik secara beradab. Bukannya biar saja jika orang lain sakit hati dengan kata-kata saya. 

    Di kesempatan kedua ketika saya datang ke sekolah, ternyata beliau masih ingat tentang blog. 

    "Jadi bagaimana, Kenenza? Sudah kembali menulis di blog?"

    Saya masih bingung, mengapa harus kembali menulis di blog? WhatsApp punya fitur status yang dapat menjadi wadah saya untuk mengeluh tentang apa saja (canda). Lagipula, meskipun karena ulah saya sendiri, saya mendapat kesulitan dengan menulis di blog (canda lagi, kejadian dengan perusahaan susu sama sekali tidak menyebalkan). Tidak, tidak. Saya tidak tahu harus menulis apa, itu saja. Politik? Sejarah? Ekonomi? Seni? Olahraga? Belum banyak hal yang saya ketahui di dunia ini, saya sadar akan hal itu. Seolah dapat membaca isi pikiran saya, beliau menjelaskan bahwa blog ini dapat berupa edutainment, tulisan yang ditulis dengan santai namun sarat akan pengetahuan dan pesan moral. Nggak harus serius, karena bukan tugas; yang penting bermutu. Saya mulai optimis, tetapi lupa mengerjakannya. 

    Kali ketiga, dan meskipun tidak mendesak, saya merasa tidak enak masih belum melaksanakannya. Tentunya, beliau tidak memaksa, melainkan melakukan sesuatu yang lebih baik dengan memberikan sebuah ajakan dihiasi dengan apresiasi yang sangat ingin saya dengar saat itu juga. 

    "Cobalah tuangkan pikiran-pikiranmu di blog, Ken! Saya selalu suka pemikiran-pemikiran kamu─sangat tajam!"

    Saya langsung besar kepala. Dengan senyum mengembang dan mata berbinar, saya mengangguk mantap. Saya tahu bahwa saya tidak akan menyesal. Saatnya memulai. 

    

Komentar

  1. Kereeen banget... Super sekali.. Pengalaman jadi pengetahuan dan pengetahuan jadi pengalaman... Tulis saja apa yang Ken alami, rasakan, dan pikirkan.Semangat terus. Tuhan memberkati 🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak pak, saya senang mendengarnya ^^ Saya akan mengikuti saran bapak, Tuhan memberkati 🙏

      Hapus
  2. kenen bahasa kamu sangat teratur dan pemikiran km kritis. asah terus dan manfaatkan berbagai platform buat menuangkan ide dan pemikiran kamu. blog khususnya krn bs nulis panjang kali lebar.. hehe. bukan cuma buat kamu looh tp buat org banyak juga. siapa tau pemikiran kamu bermanfaat bagi orang lain. semangat semangaattttttt. ditunggu tulisan2nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Okee tantee, saya akan terus menuangkan ide dan pikiran saya agar dapat bermanfaat bagi banyak orang..terima kasih banyak untuk pujian dan sarannya ٩(^◡^)۶ o

      Hapus
  3. I'm not reading all that BUT YASSSS GO YOUUUU

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Exposition Text

Digital Literacies and My Identities

Jaxith dan Perjalanan Melintasi Waktu - Sinopsis, Pengantar